22 Maret 2012
Para tokoh politik dan akademisi berbicara dalam ajang seminar nasional di Graha Bhayangkara Universitas Bhayangkara Surabaya (senin/21/3) dengan tema “ peran tokoh politik dan akademisi dalam menciptakan iklim politik yang kondusif dan bersih ”. Seminar terselenggara atas kerjasama Badan Eksekutif mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum, Forum masyarakat cinta damai dan Pemuda Garuda Sakti Surabaya.
Hadir sebagai pembicara Dr. Martono ketua DPD Golkar Jatim, Sirmadji politisi PDIP, Ketua Liga Mahasiswa Nasional Demokratik (LMND) Arif Fachrudin, SE serta akademisi diwakili Dr. Budi Rianto, M.Si Dosen Fisip sekaligus Wakil Rektor I Ubhara Surabaya, Pemandu acara Rastra ketua BEM Fakultas Hukum.
Isyu-isyu aktual tentang gerakan mahasiswa, kondisi perpolitikan di Indonesia dan kenaikan BBM tak luput dari bahasan seminar. Dr. Budi Rianto, M.Si banyak menyoroti tentang revitalisasi birokrasi. Karena di era demokrasi sekarang ini perlu mengoptimalkan kinerja birokrasi, sebab tuntutan masyarakat tentang pelayanan publik harus dibarengi standart kinerja, transparansi dan akuntabilitas publik. Di era rezim orde baru legitimasi birokrasi banyak terkooptasi penguasa, tegasnya.
Sedangkan Dr. Martono ketua DPD Golkar Jatim mengungkapkan adanya ketegasan kepala negara dalam menghadapi fenomena yang berkembang. Agar kebijakannya tidak tersandra oleh kepentingan politik, sinyalemen selama ini kebijakan Presiden tersubordinasi oleh kekuatan politik dalam negeri maupun kepentingan asing. Lain lagi dengan Sirmajdi politisi PDIP itu banyak menyoroti gerakan mahasiswa selama ini banyak disokong kepentingan kapitalisme, liberalisme sehingga ketika perubahan benar-benar terjadi rakyat masih miskin tereliminasi kepentingan kaum kapitalis. Sedangkan tokoh pergerakan mahasiswa Arif Fachrudin ketua LMND banyak mengkritisi pergerakan mahasiswa dari mulai era reformasi lebih menekankan faham-faham, teori-teori barat menyayangkan bahwa mereka cenderung lupa akan ajaran-ajaran pendiri bangsa seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoto, Syahrir. Sedangkan pada tataran kenegaraan jika Presiden tidak banyak melibatkan, mendengarkan hati nurani rakyat dalam setiap pengambilan kebijakan, sangat sulit menciptakan suasana kondusif, tegasnya.
Selain wacana-wacana segar dari para nara sumber, para mahasiswa peserta seminar juga tidak kalah sengitnya dalam mengomentari, mengkritisi fenomena yang berkembang. Sehingga terjadi dalam suasana dialogis kritis akan tetapi tetap dalam koridor norma-norma yang berlaku. (del/jo/pus)
Share








